Kedelai, Pengenalan dan Target.

Saya dan Kedelai

Kedelai, yang bahasa latinnya adalah (Glycine max (L.) Merr.) adalah salah satu tanaman budidaya di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Tanaman yang dapat diolah menjadi tempe dan kecap ini diduga berasal dari hibridisasi antara Glycine ussuriensis Regel yang terdapat liar di Seluruh Asia bagian Timur, dengan Glycine tomentosa Benth., yang tumbuh liar di China bagian selatan. So…sudah jelas jika kedelai bukan tanaman asli Indonesia. Nah, kedelai sendiri jauh dibudidayakan sebelum adanya tulisan, catatan tertua mengenai kedelai adalah dari tahun 2838 before century. Hal ini ditulis lebih lengkap oleh Muchlis Ade dan Ayda Krisnawati, Pengkajian terhadap asal usul kedelai, pertama kali ditemukan dalam buku Pen Ts’ao Kong Mu (Materica Medica) pada era Kekaisaran Sheng-Nung pada 2838 Sebelum Masehi (SM).

Menurut Setijo Pitojo, Muchlis Ade dan Ayda , secara taksonomi Kedelai termasuk famili Leguminosae, subfamili Papilionoideae. Rahmat Rukmana dan Yuyun Yuniarsih menyebutkan, kedelai dikenal dengan berbagai nama berbeda seperti kedele, kacang jepung, kacang bulu, gadela, demokam,edamame dan koramame. Namun penyebutan umum di berbagai belahan dunia adalah soybean.

Display Tanaman Kedelai

Morfologi singkat dari kedelai menurut beberapa literatur yang saya baca adalah; Struktur akar tanaman kedelai terdiri atas akar lembaga, akar tunggang dan akar cabang; batang semak yang dapat mencapai ketinggian antara 30-100 cm, batang beruas-ruas dan memiliki percabangan antara 3-6 cabang; Daun kedelai mempunyai ciri-ciri antara lain helai daun oval, bagian ujung daun meruncing dan tata letaknya pada tangkai daun bersifat majemuk berdaun tiga; Buah kedelai disebut buah polong seperti buah kacang-kacangan lainnya. yang tersusun dalam angkaian buah. Polong kedelai yang sudah tua ada yang berwarna coklat, coklat tua, coklat muda, coklat kekuning-kuningan, coklat keputih-putihan dan kehitaman. Tiap polong kedelai berisi antara 1–5 biji.

Pada umumnya, kondisi iklim yang paling cocok untuk pertumbuhan tanaman kedelai adalah daerah-daerah yang mempunyai suhu antara 250 – 280 C, kelembaban udara rata-rata 60%, penyinaran matahari 12 jam/hari atau minimal 10 jam setiap harinya.

Beralih ke bagian hilir, data yang dirilis Setjen Kementan menyatakan bahwa produksi kedelai nasional lima tahun terakhir meningkat rata-rata 2,49% per tahun. Secara nasional peningkatan produksi kedelai periode 2011-2015 baru terealisasi tahun 2014 sebesar 22,44% dan 2015 sebesar 4,59%, sedangkan tiga tahun sebelumnya mengalami penurunan sebesar 6,15% (2011), 0,96% (2012), dan 7,49% (2013). Untuk produktivitas masih berada di angka 1,5,Ton / Ha, sedangkan di tingkat petani masih sangat bervasiasi antara 0,5 hingga 1,5 Ton / Ha.

Menurut pustaka litbang pertanian, Tahun 2017 merupakan langkah pertama untuk mencapai target swasembada kedelai di tahun 2018-2019, kebutuhan kedelai nasional sebesar 2,2jt ton/tahun (dan diyakini terus bertamabah) masih minus jika disandingkan dengan data produksi dalam negeri yang baru mencapai 920 ribu ton/tahun. Keterbatasan produksi kedelai nasional disebabkan karena masih rendahnya tingkat produktifitas, kepemilikan lahan yang sempit, luas panen menurun, harga jual yang masih rendah di tingkat petani.

Monitoring Tanaman Kedelai

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Momon Rusmono mengatakan bahwa di APBN-P 2017 sudah disiapkan daerah yang akan mengembangkan kedelai dengan total luasan 500 ribu hektare. Momon memastikan, kegiatan ini akan didampingi oleh berbagai kalangan seperti peneliti, dosen, mahasiswa, hingga TNI untuk menjamin peningkatan produktivitas kedelai nasional.

Kabupaten Balangan sendiri akan mendapatkan 2000 hektare sebagai bagian dari pengembangan kedelai nasional di APBN-Perubahan 2017. Dan Insya Allah akan segera tanam dalam bulan oktober 2017. Adapun kegiatan APBN-P dimaksudkan sebagai penyediaan benih untuk tahun 2018.

Leave a Reply

Jadi pengomentar pertama yuk!

avatar
  Subscribe  
Notify of