Bolehkah Sarjana Pertanian Bekerja di Sektor Non Pertanian?

Pembukaan

Sambil menunggu keberangkatan menuju Desa Baruh Panyambaran untuk menyiapkan panen padi, maka saya mencoba menulis secara singkat selama 15 menit untuk memanfaatkan waktu. Jikalau ada tulisan yang keliru…akan saya update secepatnya (maklum…posting singkat).

Orasi Jokowi di IPB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menjelang akhir tahun 2017 Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke Gudangnya Sarjana, Master dan Doktor Pertanian di Indonesia yaitu Instutut Pertanian Bogor. Pada sambutan, beliau memberikan sindiran pada lulusan Sarjana Pertanian yang ternyata bekerja bukan sesuai bidangnya. Jokowi memberikan contoh bahwa banyak petinggi BUMN yang ternyata lulusan IPB.

Menurut kompas, Jokowi mengatakan seyogyanya para Sarjana Pertanian harus terjun ke sawah untuk mengembangkan pertanian secara modern. Karena sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang amat sangat menjanjikan. Bukannya malah kerja di perbankan atau malah marketing.

Well, kalo saya sih sudah pas. Lulusan pertanian yang juga bekerja di Dinas Pertanian, walaupun saya lebih menyukai tanaman hortikulura daripada tanaman pangan yang sekarang saya tangani hehee….saya kan masih bisa belajar. Yang penting sama tanaman hehee….

My Opinion

Menurut saya sih, yang pure orang pertanian….saya menolak atau tidak mendukung jika Sarjana Pertanian bekerja tidak sesuai bidangnya. Secara tegas sebagai seorang muslim saya mengikuti dari Sunah Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015).

Bisa dibayangkan, jika sesuatu dikerjakan oleh seseorang yang tidak mempunyai ilmu di bidangnya. Contoh, membangun sebuah bangunan yang dikerjakan oleh Sarjana Pertanian. Jika tidak belajar terlebih dahulu tentang bangunan….maka sudah pasti bangunan tidak bisa berfungsi dan berdiri dengan baik.

Pengecualian

Namun, ada beberapa situasi dan kondisi yang menurut saya dapat menjadi pengecualian bagi seorang Sarjana Pertanian bekerja diluar sektor pertanian. Apalagi tuntutan jaman now yang semakin wah menjadikan bukan suatu kewajiban Sarjana Pertanian bekerja di sektor pertanian. Nah beberapa situasi dan kondisi tersebut adalah :

Kebijakan Pemerintah Terhadap Pertanian

Sudah menjadi rahasia umum, jika usaha pertanian bukan usaha yang cukup menarik bagi mereka yang muda mudi dalam hal ini para sarjana Pertanian yang baru wisuda. Kondisi pertanian kita sekarang lagi banyak-banyaknya mendapat ujian seperti alih fungsi lahan, anomali iklim, ketersediaan benih, serangan OPT dan kebijakan pemerintah itu sendiri.

Saya Sedang Berada di Salah Satu Stand Penas di Banda Aceh

Saya Sedang Berada di Salah Satu Stand Penas di Banda Aceh

Kita tahu, jika kebijakan pemerintah kita harus balance antara konsumen dan pelaku usaha (petani) dari segi harga. Harga harus selalu ditengah agar tercapai harga keseimbangan antara konsumen dan petani. Ditambah lagi ada program import beras di tengah-tengah kondisi panen padi di berbagai wilayah.

Namun, ada baiknya juga jika para Sarjana Pertanian terjun untuk memecahkan berbagai masalah Pertanian. Namun, untuk masalah kebijakan….tentu saja tidak bisa berpartisipasi secara langsung.

Tuntutan Rezeki

Sudah tentu jika para mahasiswa yang telah diwisuda akan dituntut untuk sesegera mungkin menghidupi diri pribadi ataupun keluarga. Jika tidak bekerja, tentu akan menambah persentase pengangguran hehee…

Jika berkenaan dengan rezeki, maka peluang apapun yang ada…harus kita ambil. Contoh saja kita (Sarjana Pertanian) setelah selasai kuliah, lalu lamaran kita diterima (contohnya saja : Bank) dengan gaji diatas UMR diterima. Maka hanya orang b̶o̶d̶o̶h̶l̶a̶h̶ yang tidak mengambil kesempatan emas tersebut dengan alasan idealis harus bekerja di bidang pertanian.

Belajar

Beberapa orang atasan saya pernah bilang, jika kita sebenarnya terlahir tanpa ilmu…namun lama kelamaan karena proses belajar maka tahulah kita tentang ilmu. Begitu juga dengan dunia pekerjaan, jika seseorang ditempatkan tugas di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan….maka belajarlah.

Ada benarnya juga sih, dengan belajar…kita akan menguasai ilmu. Bahkan yang tidak kita peroleh di bangku kuliah.

Kesimpulan

Intinya, saya memang menolak jika suatu bidang dikerjakan oleh orang yang bukan ahlinya….Namun saya juga tidak melarang asalkan ada beberapa situasi dan kondisi yang mengharuskan pekerjaan tersebut di isi oleh orang yang bukan ahlinya…asalkan mau belajar dan belajar.

Intinya, jika pak Jokowi menyindir Sarjana Pertanian yang bekerja di luar bidang pertanian…..maka pertanyaan tersebut dapat dikembalikan ke Pemerintah. Sebegitu tidak menariknya kah pekerjaan di sektor pertanian sehingga Para Sarjana Pertanian banyak yang membelot ke sektor lainnya. Dan pertanyaan selanjutnya, kebijakan apa saja yang perlu diterbitkan untuk menarik minat kawula muda khususnya Sarjana Pertanian agar mau bekerja di sektor Pertanian?

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

2
Tinggalkan komentar

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
adminEvrinasp Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Evrinasp
Guest

Setelah lulus kuliah, saya pernah bekerja di tempat yang bukan bidang pertanian, hasilnya gak betah cuma bertahan 3 bulan aja, baru dari situ benar2 kembali ke asal, bekerja di perusahaan benih hingga akhirnya menjadi penyuluh saat ini. Itu semua menurut saya dikembalikan ke pribadi masing2 sebenarnya mau bagaimana, memang benar bidang pertanian kurang menjanjikan dibanding yg lain, tapi tidak menutup kemungkinan juga menjadi ladang penghasilan apalagi jika potensi daerahnya mendukung. Eh panjang amat ya, saya juga termasuk orang yang belum kembali ke pertanian, wong masih jadi pekerja yg digaji, bukan pemberi lapangan kerja