Padi Lahan Kering, Pendongkrak Produksi Padi Nasional Jaman Now

Teringat akan postingan saya yang menyinggung tentang laju pertumbuhan penduduk yang berkibat kewajiban dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia. Menurut data BPS, luas baku lahan sawah di Indonesia mencapai 8 juta hektare dikurangi 100 ribu hektare pertahun alih fungsi lahan pertanian.

Saat ini, dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai angka 250 juta jiwa dan dengan tingkat pertumbuhan sekitar 1,6 persen, diperlukan lahan sawah minimal seluas 10 juta hektar.

Untuk mendapatkan 10 juta hektar saya rasa sangat sulit dan tentu akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dikutip dari industri bisnis.com, Sekjen Kementrian Pertanian mengungkapkan bahwa anggaran cetak sawah tahun 2018 turun dari angka 2017. Pada tahun 2017, angka 1,18 triliun digelontorkan untuk mencetak sawah seluas 72 ribu hektar.

Tahun 2018, pagu anggaran yang “hanya” sebesar 220,5 miliar untuk 12 ribu hektar. Dengan angka tersebut, maka luas baku 10 juta hektar tentu tidak akan tercapai dalam waktu dekat. Bahkan minus jika dikurang dengan luas alih fungsi lahan pertanian.

Berkenaan dengan permasalahan tersebut diatas, pemerintah tentu tidak tinggal diam. Apalagi ini urusan perut, bukan hal yang lucu jika urusan perut disepelekan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menambah produksi dengan luas baku sawah yang ada. Bahkan mengembangkan lahan yang sedikit terpinggirkan.

Salah satunya adalah pengembangan padi lahan kering. Tahun 2018, Kementrian Pertanian berdasarkan hasil Rekernas Pertanian 2018 mengalokasikan 1 Juta hektar padi lahan kering ditambah dengan PATB (Perluasan Areal Tanam Baru) seluas 1 juta hektar.

Padi lahan kering atau sering disebut dengan padi Gogo, untuk Kabupaten Balangan hampir 90 persen berlokasi di pegunungan memang dikenal dengan padi yang berproduksi rendah. Produksi berkisar antara 1 hingga 1,5 ton per hektar. Jauh tertinggal dari padi sawah yang berkisar antara 4 hingga 7 ton per hektar.

Saya Berphoto di Hamparan Padi Lokal Timpakol

Saya Berphoto di Hamparan Padi Lokal Timpakol

Masih digunakannya benih lokal turun-temurun, tingginya serangan OPT seperti Blast (Pyricularia grisea), kurang terpelihara karena padi lahan kering cuma ditanam sebagai tanaman sela tanaman pokok (perkebunan), kurangnya pengetahuan petani tentang budidaya padi lahan kering merupakan beberapa hal penentu dari rendahnya produktivitas padi lahan kering.

Namun dengan teknologi pengembangan pertanian jaman now, sudah saatnya padi lahan kering juga mampu mendekati atau bahkan berproduksi lebih tinggi dari padi sawah tadah hujan / irigasi.

Penggunaan benih unggul padi lahan kering yang semakin bervariasi dari rasa, keharuman serta usia bisa menjadi strategi jitu untuk meningkatkan produktivitas. Selain itu, bibit unggul terbaru tentunya lebih tahan terhadap serangan OPT. Varietas unggul padi lahan kering yang dapat dibudidayakan adalah Inpago 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, Situpatenggang, Situ Bagendit, Buyung. Bahkan ada varietas baru seperti pada postingan saya sebelumnya.

Varietas Inpago 11 di Lahan Perkebunan Karet

Varietas Inpago 11 di Lahan Perkebunan Karet (Program BPTP Kalsel 2018)

Benih unggul padi lahan kering juga bagus jika diaplikasikan dengan bakteri indigenous (lokal) untuk memacu pertumbuhan dan supaya lebih adaftif terhadap kondisi tanah sekitar.

Penggunaan varietas unggul serta menerapkan budidaya yang tepat, bukan hal yang mustahil jika padi lahan kering mampu produktivitasnya mampu melebihi padi sawah (irigasi/tadah hujan)

Terakhir, meskipun merupakan tanaman sela perkebunan. Patut dipelihara juga padi lahan kering tersebut agar mampu berproduksi optimal, sehingga benar-benar mampu mendongkrak produksi padi nasional.

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar

8 Comments on "Padi Lahan Kering, Pendongkrak Produksi Padi Nasional Jaman Now"

avatar
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Rizal Hidayat
Guest

Saya tinggal si daerah gunung, dan tiada tanaman padi. Mau tak mau harus beli. Jadi, apabila target pemerintah tersebut tidak tercapai……….. bisa jadi kami punah ini. Hehehe

Swmoga saja program padi lahan kering tersebut sukses ya…. demi kesejahteraan😁

Adit
Guest

Hi Mas, soal padi dan petani pada umumnya memang mengkhawatirkan. Saya pernah ikut diskusi pertanian dan di situ disinggung bagaimana Indonesia terus kehilangan petani. Membaca tulisan mas di sini setidaknya memberi harapan baru, dan semoga ini bisa terus dikembangkan ya.

Asad Agus Saputra
Guest

wah kerenn nih,

evrinasp
Guest

saya tuh mau ngenalin padi gogo ke wilbin saya soalnya sudah mulai kesulitan air sementara target tanam tetap tinggi, tapi rata2 pada menolak, padi sawah masih tetap jadi idola