Trip To Banda Aceh (Sebuah Janji Untuk Kembali)

Pertengahan Mei 2017, saya ditugaskan kantor untuk berkunjung ke Pesta Akbar “Pekan Nasional Tani” XV di ujung timur Indonesia Propinsi NAD tepatnya kota Banda Aceh. Sangat bersemangat sekali, karena baru kali ini bisa mengenal daerah “Bumi Serambi Mekah” ini (perjalanan paling jauh sebelumnya hanya ke Padang). Tugas utama saya adalah melihat paket teknologi pertanian dari seluruh Indonesia yang dipajang pada kegiatan tersebut, kali aja ada yang bisa diterapkan di Kabupaten kami. Tiga hari menjelang keberangkatan semua sudah beres; tiket; penginapan hingga itinery (supaya dapat mengatur waktu, maklum di Aceh lumayan banyak tugas serta tempat wisata yang wajib dikunjungi).

Perjalanan kali ini begitu mengesankan, sampai sampai saya mengucapkan janji bahwa suatu saat akan menginjakkan kaki kembali di Bumi Serambi Mekah

Menggunakan Garuda AIrlines, kami (dengan tiga orang rekan kantor) berangkat pada pukul 09.00 dari Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru menuju Soekarno Hatta (transit) dan dilanjutkan menuju Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda yang terletak di Kecamatan Blang Bintang Aceh Besar.  Lumayan capek, karena kami landing sekitar jam 7 malam.

Penginapan Murah & Ayam Tangkap

Dari Bandara menuju hotel diperlukan waktu hampir satu jam, kami menginap di Mawar Holiday (jalan Jend. Sudirman, belakang rumah sakit Fakinah) sebuah rumah besar berlantai dua yang disulap menjadi sebuah penginapan. Saya bersama teman mendapatkan kamar dengan AC tanpa TV (TV terletak diluar kamar), pagi mendapat breakfast nasi kuning dengan telor (nasi guri) khas Aceh. Lumayanlah, karena satu minggu menjelang keberangkatan semua hotel di Aceh sudah terisi penuh. Maklum kan dari seluruh penjuru Indonesia khususnya insan pertanian pada berangkat kesini. Di loby penginapan, terpampang puluhan photo Aceh pasca terkena bencana tsunami pada tahun 2006.

Loby Mawar Holiday

Setelah menaruh barang bawaan dan mencuci badan (mandi), kami bermaksud untuk mengisi kekosongan perut dengan makanan khas Aceh. Pilihan kami tentu saja mencari  rumah makan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari penginapan, akhirnya kami makan di Rumah Makan Bu Sie Itiek Bireuen (katanya Bang Adi sang pengelola mawar holiday, ini adalah rumah makan paling recomended di Aceh).

Ayam Tangkap dan Gule Itik Khas Aceh

Saya pilih menu Ayam Tangkap, Kare Itik dengan minuman kerok pepaya. Wiihhhh…..semua yang saya makan kali ini luar biasa enaknya. Ayam tangkapnya, super enak….daun-daunnya juga enak (ayam tangkap adalah ayam kampung yang digoreng dan dikasih daun…….); kare itiknya…..empuuuuuk banget, kuahnya terasa sekali. Tak diduga, baju saya sudah basah dengan keringat…..dan perjalanan menuju ke penginapan (sejauh 3 kilometer) kami tempuh dengan berjalan kaki saja untuk menurunkan rasa kekenyangan.

Acara Penas XV

Denah Stand Penas Tani XV Aceh

Esoknya, setelah menyantap makan pagi (Nasi Guri) dalam keadaan hangat dan pedas kami bergegas ke lokasi acara Penas yang terletak di Stadion Harapan Bangsa (by the way kami sengaja menyewa satu buah mobil untuk membawa kami ke lokasi acara sekaligus berkeliling kota Banda Aceh).  Hampir seluruh stand yang ada di stadion tersebut kami jelajahi, puluhan leaflet serta brosur berhasil saya bawa berikut benih bawang merah dan beberapa sampel agrimeth (pupuk hayati). Berharap apa yang saya bawa dan rekam dalam otak akan berguna untuk kemajuan teknologi pertanian di Kabupaten kami.

Stand Monsanto

Masing-masing stand memamerkan hasil teknologi pertanian mereka yang terbaru. Seperti stand Kementrian Pertanian yang memajang benih varietas unggul terbaru, Asuransi Pertanian (Asuransi Tanam Padi dan Asuransi Ternak Sapi), alat mesin pertanian dan beberapa hasil olahan bahan pangan seperti cake dari pisang atau bahkan dari kedelai lokal Indonesia non GMO.

Stand perusahaan yang bergerak di bidang pertanian juga turut ambil bagian, seperti PT. Bayern Indonesia (kebetulan saya pernah menjadi karyawan perusahaan tersebut), PT. Monsanto, PT. Pioneer dan banyak lagi. Hasil produksi mereka pajang sebagai hiasan menarik di sekeliling stand. Ada juga stand yang mempunyai stand buat selfie sehingga menjadi rebutan para pengunjung untuk berfoto dan hasil seffie pengunjung akan dilombakan di hari penutupan nanti.

Adapula stand yang memamerkan buah-buah langka dan eksotis dari berbagai penjuru tanah air (bagi saya sih langka) seperti buah merah dari Papua, buah labu siam, buah carica, buah mundu dan puluhan buah langka lainnya. Buah buahan langka ini akan didaftarkan oleh Kementrian Pertanian sebagai buah asli dari asal daerahnya, supaya tidak didaftarkan oleh negara lainnya.

Museum Tsunami Aceh

Setelah agak siang, kami mengunjungi suatu bangunan peringatan suatu sejarah kelam bumi serambi mekah yaitu museum Tsunami Aceh. Museum ini terletak di Jalan Soekarno Hatta persis di depan Taman Blang Padang Aceh. Kembali kami menemui sangat banyak pengunjung, event akbar nasional Penas Tani ternyata dimanfaatkan betul-betul oleh peserta maupun pengunjung Penas untuk berwisata di Aceh, termasuk Museum ini. Well, museum yang mulai dibuka tahun 2009 ini ternyata diarsiteki oleh Kang Emil (M. Ridwan Kamil – Walikota Bandung 2013-2018). Biaya yang diperlukan untuk membangun museum seluas 2.500 meter persegi di setiap lantainya ini adalah 140 miliar.

Pertama memasuki ruangan museum ini lumayan menakutkan, karena kita memasuki lorong gelap dan lembab disertai dengan suara air serta teriakan orang minta tolong. Cipratan air mengenai muka saya sehingga menambah realistis kejadian 26 Desember 2004 ketika gelombang tsunami setinggi puluhan meter menerjang Aceh.

Sumur Harapan Museum Tsunami Aceh

Kemudian saya memasuki ruangan yang cukup besar yaitu diorama bencana tsunami Aceh. Terdapat puluhan layar yang siap untuk kita lihat (film dokumenter tentang tsunami aceh). Selanjutnya adalah sumur doa, ribuan nama korban bencana tsunami Aceh tertampang di bangunan berbentuk silinder (sumur) menambah haru suasana. Alunan ayat suci Al-Qur’an terdengar jelas seakan menyarankan kita untuk berdoa bagi para korban. Nah sedangkan yang selamat, juga perlu kita doakan agar dapat tabah dan sabar menerima cobaan sehingga dapat melanjutkan hidup ke arah yang lebih baik lagi (itulah kenapa ruangan ini dinamakan dengan sumur harapan).

Maket Museum Tsunami Aceh

Maket Museum Tsunami Aceh

Bila diperhatikan dari atas, museum ini merefleksikan gelombang tsunami, tapi kalo dilihat dari samping (bawah) nampak seperti kapal penyelamat dengan geladak yang luas sebagai escape building. Asal-muasalnya, Museum Tsunami Aceh mengambil ide dasar Rumoh Aceh. Nuansa Rumoh Aceh pun tampak pada lantai pertama museum yang dibuat menyerupai rumah panggung, dimana merupakan rumah tradisional orang Aceh. Ridwan Kamil memang menyelipkan berbagai unsur Aceh, Islam, hingga bencana Tsunami Aceh 2006 ke dalam desain bangunannya. Bang adi yang hari ini berperan sebagai sopir sekaligus guide menceritakan bahwa lapangan blang padang ini adalah tempat berkumpulnya masyarakat aceh ketika gempa mengguncang aceh. Namun tak berapa lama, malah tsunami setinggi pohon kelapa langsung menyapu Aceh. Di Lapangan tersebut ratusan mayat rakyat Aceh tergeletak akibat tsunami.

Wisata Sabang

Antrian Panjang Kendaraan Masuk Pelabuhan Banda Aceh

Jauh sebelum keberangkatan ke Banda Aceh, seperti biasa saya sudah searching everything termasuk wisatanya. Karena saya suka akan wisata bahari, maka saya memilih sabang sebagai destinasi saya di hari terakhir. Dengan bergegas (jam 7.00) saya bersama rekan sudah berada di penyeberangan Ulee Lheue di Banda Aceh. Kami bermaksud menyeberang ke Sabang mengunakan kapal ferry cepat dengan waktu tempuh 45 menit. Ternyata, lagi lagi karena pengunjung membludak  maka tiket kapal fery cepat sudah ludes dan keberangkatan selanjutnya jam 14.30.  Tanpa pikir panjang, kami berlari menuju kapal lambat (waktu tempuh 2 jam) yang akan segera berangkat (hampir saja ketinggalan kapal).  Perjalanan menuju Pulau Wee memang perlu pengorbanan, lari-lari menuju dermaga kapal ferry serta berdesakan dalam kapal. Ada tiga tempat yang jadi tujuan kami, yaitu Benteng Jepang, Tugu Nol Kilometer dan Pantai Sumur Tiga.

Sesampainya di Pelabuhan  Balohan Sabang, saya menyewa sepeda motor karena prediksi saya kondisi jalanan akan padat jika menyewa mobil, khawatirnya akan tertinggal ferry untuk balik ke Banda Aceh (menginap di Sabang sepertinya mahal dan saya tidak membawa baju ganti).

Rute pertama kami tentu saja adalah Tugu Nol Kilometer, hampir sepanjang jalan tentu saja disuguhi oleh teluk Sabang yang luar biasa indahnya. Sesekali kami mampir untuk berfoto di sisi tebing dengan pemandangan teluk sabang yang wow.

Teluk Sabang

Renovasi Tugu Nol Kilometer

Benar saja, kondisi jalan sangat padat. Akan sangat memakan waktu jika kami menggunakan mobil. Mengunakan motor saja lumayan lama, hampir 2 jam perjalanan menuju Tugu Nol Kilometer Indonesia dari Pelabuhan labohan. Sampai di Tugu Nol Kilometer, deretan mobil mengular hingga 2 Kilometer sebelum pintu masuk Tugu. Pengunjung membludak seperti pasar, untuk berfoto sangat susah sekali mengatur moment (kita minta izin untuk gantian seakan tidak digubris) sehingga budaya budaya antri tidak saya temui di sini.

Tugu Nol Kilometer kali ini sedang ada perombakan, sehingga saya tidak bisa berfoto lebih dekat. Di sekitar tugu banyak warung makan yang menjajakan berbagai penganan dan makanan. Maklum karena kondisi jalan yang sempit dan macet sehingga banyak orang yang merasa kelelahan, nah warung warung ini berperan sebagai penghilang dahaga pengunjung. Namun yang saya sayangkan pengelolaannya agar jangan sampai merusak pemandangan dan keindahan dari tugu Nol Kilometer itu sendiri.

Dermaga Pantai Lboih

Sepulang dari Tugu Nol Kilometer, kami singgah mencari makan siang di pantai Lboih. Ada beberapa penginapan dan resort yang menawarkan alat dan pakaian untuk snorkling dan diving. Namun karena saya tidak membawa baju ganti dan agak kelelahan habis dari Tugu Nol Kilometer, terpaksa kesempatan itu saya lewatkan begitu saja (dalam hati…saya berjanji akan kembali ke tempat ini untuk sepuasnya snorkling). Di seberang pantai, ada pulau Rubiah yang menjadi surganya wisata bahari di Sabang.

Menyantap makan siang di pinggir pantai sambil merasakan belaian angin ditambah suara deburan ombak sungguh sangat menyenangkan (sampai lupa kegiatan kantor hehee), lauknya sih biasa…tapi suasananya itu lho.

Karena kondisi kelelahan dan kapal ferry yang akan berangkat satu jam lagi, maka kami memutuskan untuk tidak mengunjungi Pantai Sumur Tiga dan Benteng Jepang (menambah semangat untuk kembali lagi kesini – dan puas-puasin nantinya).  Dan benar saja, suara panggilan dari pelabuhan jika kapal ferry yang akan membawa kami kembali ke Banda Aceh terdengar jelas. Maka kamipun bergegas menaiki kapal tersebut lebih dulu agar dapat tempat duduk (lumayan kalo berdiri selama dua jam).

Nyasar dan Makan Enak Lagi

Esok harinya, jadwal saya adalah mengunjungi tempat yang cukup unik yaitu PLTD Apung. Kapal berbobot 2.600 Ton ini didatangkan pada tahun 2003 dari Kalimantan Barat untuk menyuplai pasokan listrik bagi masyarakat Aceh yang pada saat itu sedang dilanda krisis listrik.  Pada hari minggu tanggal 26 Desember 2004, gelombang tsunami setinggi sembilan meter menghempaskan kapal dengan panjang 63 meter ini sejauh lima kilometer dari bibir pantai, sehingga terseret jauh ke permukiman warga. Saking dahsyatnya gelombang tersebut, satu awak kapal selamat dari yang semula berjumlah sembilan orang. Sayangnya pada saat berkunjung kesana, ketika sedang istirahat Dzuhur sehingga wisata PLTD Apung tersebut sedang tutup (buka lagi pada jam dua siang).

Sore hari setelah selesai mencari oleh-oleh, saya memberanikan diri meminjam sepeda motor Bang Adi, dengan tujuan ingin Sholat Maghrib di Masjid Baiturrahman (satu-satunya bangunan yang tetap berdiri megah pada saat tsunami Aceh). Berbekal google maps, saya mencoba menuju mesjid seorang diri.

Bangunan Megah Mesjid Baiturrahman Banda Aceh

Tanpa saya sadari, HP saya mati seketika dan ternyata batere HP saya memang sedang low bat. Sehingga saya cuma mengandalkan insting dan tanya2…dan akhirnya nyasar. Dari waktu tempuh yang katanya Bang Adi cuma 15 menit dari penginapan, ini sudah 45 menit (sempat frustasi). Namun akhirnya, pada belokan terakhir….terlihat bangunan mesjid Baiturrahman yang megah dihiasi cahaya matahari terbenam (Masya Allah cantiknya….). Dan Anehnya tiba-tiba HP saya bisa hidup kembali (untuk bisa mengambil photo Mesjid dari atas motor).

Sambil menunggu waktu Isya, saya sempatkan nge-charge HP (biar bisa pulang dengan selamat tanpa nyasar ke penginapan). Dan setelah Sholat Isya, saya menuju peginapan…..eit tapi lapar. Saya coba browsing tempat makan enak di Banda Aceh, selain Rumah Makan Bu Sie Itiek Bireuen yang sudah tersohor tenyata ada satu rumah makan lagi yang recomended yaitu Rumah Makan Canai Mamak (yang menggembirakan ternyata lokasinya satu jalur dengan jalan pulang).

Penampakan Rumah Makan Canai Mamak Dari Luar

Nasi Briyani Canai Mamak Banda Aceh

Berlokasi di Jalan Teungku Umar, rumah makan ini sangat mudah ditemukan. Yang mengasikkan, ternyata kita bisa makan diluar (ada disediakan meja di emperan toko) jadi kita bisa menikmati malam sekaligus menyicipi makan malam. Ternyata lumayan banyak pengunjungnya. Saya cari tempat duduk diluar dan langsung pesan. Pesanan saya kali ini adalah roti canai, nasi briyani plus kareh kambing, untuk minumnya saya pilih juice tomat (karena sedang perlu banyak vitamin untuk mendukung kegiatan outdoor  yang banyak saya lakukan). Tak perlu menunggu lama, sekitar sepuluh menit, pesanan saya sudah tersaji di hadapan saya.

Rasanya, herbring euuuiii……..daging kambingnya empuk, karehnya juga gurih….terasa sekali perpaduan bumbu khas acehnya. Roti canainya lembut, benar-benar enak (bahasa banjarnya : Nyaman Banar).

Penutup dan Harapan

Alhamdulillah, syukur selalu saya panjatkan akan kemurahan rezeki-Nya sehingga saya di izinkan untuk menhampiri Propinsi paling Barat Indonesia. Harapan saya tentunya, mudahan bisa kembali ketempat ini plus membawa kamera yang agak canggih untuk mengabadikan keindahan ciptaan-Nya.

 

 

 

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

35
Tinggalkan komentar

avatar
18 Comment threads
17 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
19 Comment authors
lianadeddyhuang.comDee RahmaMaryalianny hendrawati Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Anisa
Guest

Aamiin, semoga bisa kembali ke sana lagi yaa. Aku juga pingin ngikut, hahaha.

Evrinasp
Guest

Wah jadi kangen sama Aceh, terutama ayam tangkapnya, enak bangetttt, sayangnya ke aceh cuma sebentar waktu itu

mydaypack
Guest

saya malah ga foto sama i love sabang, lupa waktu disana hahahaa

vika
Guest

waaa keren nih kakak main terus hehehee.. pengen sii nyoba ke banda aceh nyobain ayam tangkapny enak kayanya tuh.. moga someday bisa main kesana dan nyobain kulinernya hehehe apalagi ke museum tersebut

kim ji won
Guest

wuaa, cantiknyaa 🙂

Ratna Dewi
Guest

Aceh salah satu destinasi impianku. Konon pantainya juga cantik-cantik ya. Pengen napak tilas ke Aceh, penasaran gimana sama museum tsunami, dan yang paling penting pengen banget wisata kuliner disana. Katanya kopinya juga enak-enak.

sari widiarti
Guest

minuman kerok pepaya itu gimana ya 😀 andai difoto juga, biar nggak penasaran

Ella+Fitria
Guest

Aku aamiinkan ya bisa kesana lg, aku juga pengin ke museum tsunaminyaaa, hhh

ibrahim
Guest

saya baru sekali mas ke museum aceh dan pengen kesana lagi namun waktu belu ada, kapan2 kalau ada libur, destinasi saya mau ke sana

Nasirullah Sitam
Guest

Sudah lama pengen ngetrip ke Aceh, biarpun hanya sehari di sana 🙂
Semoga tahun ini ada kesempatan.

Endah Kurnia Wirawati
Guest

Wahh saya pertama kali ke Banda Aceh tahun 2013, dan punya keinginan kembali kesana lagi. Masih banyak tempat yang belum sempat saya kunjungi disana euy

zata
Guest

wahhh pengen banget deh kapan2 bisa main2 ke Aceh juga 🙂

Evi
Guest

Seru banget Mas Anton, menunaikan tugas kantor sambil jalan-jalan. Terus makan ayam tangkap di tempat aslinya..

lianny hendrawati
Guest

Teluk sabang nya cakeup, belum pernah ke sana. Btw lucu juga nama menunya, ayam tangkap, kebayang ayamnya dikejar-kejar trus ditangkap hahaha, ternyata ayam yg dikasih daun 😀

Marya
Guest

aku pengen banget ke museum tsunami aceh ini, kayanya mungkin bisa sentimental klo kesana yah… mudah2an kapan2 dapet kesempatan kesana. 🙂

Dee Rahma
Guest

Semoga bisa kesana lagi ya mas. Kalo saya ingin sekali berkunjung ke Museum Tsunami-nya 😀

Cheers,
Dee Rahma

deddyhuang.com
Guest

aku rindu balik ke sabang lagi 🙁 masih banyak yang belum didatangin nih

liana
Guest

wah, Sabang. Kota yang sangat menarik!
saya sempat ke sana tp belum lengkap rasanya karena belum makan ayam tangkap mas.
ada alasan untuk kembali lg 😀

terima kasih buat cerita serunya ya mas.