Pengendalian Tikus Menggunakan Burung Hantu Sebagai Predator

Menurut rekan-rekan POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) yang selalu melakukan monitoring pada kondisi pertanaman tanaman pangan di Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan, maka didapat keluhan tentang serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) tikus. Tanaman Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau yang petani budayakan maka tidak luput dari serangan hewan pengerat ini. Semua pertanaman (terutama padi) banyak mendapat serangan tikus. Hewan yang tergolong vertebrata (bertulang belakang) ini memang merupakan musuh utama para petani. Bagaimana tidak, ancaman puso (gagal panen) akan menghantui petani jika tidak melakukan pengendalian.

Berbagai upaya sudah kami lakukan, seperti menganggarkan rodentisida (racun tikus) dan bom asap (alat untuk mengasapi lubang tikus) yang kami bagikan kepada petani. Melalui dana APBN juga pernah dianggarkan untuk pengadaan fiber (sebagai pengandang tanaman)  mencegah masuknya tikus ke sawah. Namun, karena tikus itu (mungkin) pintar jadi semua cara pengendalian mampu dia atasi (tanaman tetap rusak).

Contoh Tanaman Padi Yang Terserang Tikus (Dok. Pribadi)

Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan searching, browsing and asking……mendapatkan sebuah artikel tentang pengendalian tikus dengan sang predator (pemangsa alias musuh alami). Ternyata musuh alami dari tikus ini ada tiga; Burung Elang, Burung Hantu dan Ular. Nah, dengan alasan mempertimbangkan keselamatan serta kemudahan menemukan predator maka kami memilih burung hantu sebagai upaya pengembangan di daerah kami. Karena di daerah kami belum terlalu familiar dengan cara pengembangan burung hantu, maka diambil keputusan untuk belajar ke suatu daerah yang tentu saja sudah expert dalam pengendalian tikus dengan Burung Hantu.

Hari Rabu tertanggal 25 April 2018 berangkatlah kami ke Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak Propinsi Jawa Tengah. Karena desa Tlogoweru telah sukses mengembangkan Burung Hantu untuk mengendalikan hama tikus pada lahan persawahan mereka. Dan yang menariknya, Burung Hantu dijadikan sebagai konsep Desa Wisata lho.

Ketika menginjakkan pertama kali di Demak, kesannya panas karena Kabupaten ini merupakan daerah pesisir. Bahkan lebih panas dibanding Semarang (tempat kami menginap).

Ditemani langsung oleh Pak Dayat (Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak) kami langsung menuju Desa Tlogoweru yang berjarak 18 Kilometer dari Ibukota Kabupaten Demak. Di tengah perjalanan, ternyata tidak sedikit keberadaan Burung Hantu disana, hal itu dibuktikan dengan terpasangnya rumah burung hantu (rubuha) di persawahan warga. Kata Pak Dayat, sekarang banyak yang mengadopsi ilmu dari Desa Tlogoweru untuk membudidayakan Burung Hantu.

Penampakan Rumah Burung Hantu di Desa Tlogoweru (Dok. Pribadi)

Menjelang sore, tibalah kami di desa Tlogoweru. Sawahnya luas-luas lho! Dan tiap jarak 200 meter, terpampang jelas adanya rumah burung hantu di sekitar persawahan. Di sekitar desa, banyak terpampang pemberitahuan lewat spanduk dan billboard bahwa dilarang untuk memburu dan menembak Burung Hantu.

Berphoto di Kawasan Karantina Burung Hantu, Desa Tlogoweru Kecamatan Guntur Kabupaten Demak (Dok. Pribadi)

Pertama kali kami diajak memasuki kawanan karantina hewan yang bernama latin Tyto alba ini. Karantina ini berguna untuk mengobati burung hantu yang sedang cidera (entah itu akibat perkelahian antar sesama Burung Hantu atau Burung Elang) kalo sudah sembuh maka akan dilepasliarkan di sekitar desa untuk menambah populasi Burung Hantu.

Menyimak Materi Tentang Pengendalian Tikus Menggunakan Burung Hantu (Dok. Pribadi)

Berikutnya, kami diajak menyimak materi tentang Burung Hantu. Burung Hantu sebenarnya tersebar di lingkungan sekitar hutan dan persawahan mengikuti hewan buruannya yaitu tikus. Namun karena tidak dibudidayakan bahkan sering diburu oleh manusia sehingga populasinya menurun drastis. Makanya populasi tikus menjadi berkembang pesat. Untuk menambah populasi burung hantu perlu berbagai trik yang bisa dibilang gampang-gampang susah.

Gampangnya kita tinggal melakukan survey apakah Burung Hantu ada di sekitar lingkungan kita. Salah Satu tanda akan adanya Burung Hantu yaitu kotoran putih seperti cat yang terlihat dibawah pohon atau pada bangunan tua, karena Burung Hantu sering ikut menginap disana.

Kotoran Burung Hantu Sebagai Tanda Adanya Hewan Tersebut di Sekitar Kita (Dok. Pribadi)

Kotoran Burung Hantu Sebagai Tanda Adanya Hewan Tersebut di Sekitar Kita (Dok. Pribadi)

Nah, jika sudah ada tandanya Burung Hantu, maka kita akan mencoba memperbanyak (membuat komunitas) dengan cara mendirikan rumah burung hantu di sekitar tanda adanya Burung Hantu tersebut. Menurut Pak Tedjo selaku narasumber, bahwa Burung Hantu akan bertelur di rumah yang telah dirikan di sekitar persawahan. Karena Burung Hantu bersifat setia  akan tempat kelahiran maka dia hanya akan berburu pada sekitar tempat tersebut dengan radius empat kilometer saja.

Rumah Burung Hantu cukup simpel kok! Tinggal buat dari bahan yang dingin (batu bata yang di cor) dengan ukuran minimal 60 x 40 sentimeter dengan ketinggian dari tanah 4,5 meter. Tak lupa dibuatkan pintu masuk bagi Burung Hantu pada bagian ujung dan arah pintunya (agar lebih dingin) jangan mengarah barat atau timur.

Memegang Burung Hantu Untuk Pertama Kalinya (Dok. Pribadi)

Dikarenakan Burung Hantu adalah hewan nocturnal (aktif dimalam hari) maka kami disarankan menunggu hingga selepas Adzan Maghrib. Benar saja, pada jam tersebut para Burung Hantu keluar sarangnya untuk berburu tikus.  Desa Tlogoweru dan beberapa desa lainnya telah sukses mengendalikan hama tikus, nah kedepannya Kabupaten Balangan juga akan menerapkan Burung Hantu untuk membasmi tikus di persawahan.

Mungkin Anda juga menyukai

1
Tinggalkan komentar

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
1 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Desi Oe Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Desi Oe
Guest

Ilmu baru nih mas..baru tau kalau burung hantu bisa menyelamatkan sawah dari tikus, sangat bermanfaat artikelnya.
Semoga Kab. Balangan juga sukses menerapkan sistem ini ya… 🙂