Dinner at Warung Bakmi Djawa Mbah Gito

Raboe, 20 Djulhijjah 1440 H, bertepatan dengan 21 Agustus 2019 setelah siangnya mencicipi enaknya makan siang di Kopi Klothok, maka sehabis maghrib….lidah ini ingin kembali merasakan kuliner jogja sebelum besok siang menuju Semarang.

Setelah berkonsultasi dengan Menteri Keuangan alias istri tercinta, kami putuskan untuk nyobain bakmi jowo….searching di mbah google, akhirnya nemu dengan Warung Bakmi Djawa Mbah Gito di daerah Terban.

Jarak dari hotel, dekat….tapi lumayan lama. Dengan jarak 4.6 Kilometer estimasi lama perjalanan by google maps adalah 14 menit. Lumayan lama bagi kami yang sudah kelaparan.

Dan benar saja, baru nyampe Jalan Batikan, istri dah nanya “lawaskah lagi pah hanyar sampai” (Translate to Indonesian ====> Lama lagi yah baru nyampe). Dan pertanyaan tersebut terus diulang selama 4 kali heheee…Syukur adek baby (debay) dan sang kakak nggak rewel sehingga tidak menambah pedih perut ini.

Suasana Dapur Warung Bakmi Djowo Mbah Hadi

Setelah lewat jalan-jalan yang lumayan sempit, akhirnya sampe juga nih…..waktu ngeliat pertama warungnya (posisi masih dalam mobil) istri nyeletuk “yakin nih pah warungnya? Kada yakin nah”

View Depan Warung Bakmi Jowo Mbah Hadi

Setelah parkir mobil di depan sebuah mesjid, baru terkesima dengan bangunan “warung” ini, yah….benar-benar sebuah warung….hampir 100 % bangunan terbuat dari kayu dan bambu. Tapi meski bangunan kurang meyakinkan, tapi pengunjungnya buanyaaaaaak men….kami mesti ngantri dulu didepan sambil menggendong debay (ya bayiku lah….masa bayi orang sih 🙂 )

Setelah menunggu 2 menit (nggak lama ternyata hihiii….) udah dipersilah masuk ke sebuah meja. Tepatnya meja nomer 20 (lesehan) dengan lantai terbuat dari bambu…., kembali istri nyeletuk “kuat nggak yah buat kita ini” Hahaaaa……

Dapet Meja di Samping Pintu Darurat 🙂

Di dinding tergantung banyak benda-benda kuno (alat pertanian), seperti alat bajak dan topi caping milik petani. Ternyata, selidik punya selidik….Mbah Gito ini profesi dulunya adalah petani, dan warung yang ditempati beliau sekarang adalah bekas kandang sapi.

Plus ada photo-photo jadul yang mengingatkan kita akan sejarah jaman penjajahan. Nah, bagian menariknya dari tiap dinding adalah lambang dilarang merokok…yesss meskipun warung ini “reot” tapi setiap pengunjung dilarang merokok di dalam warung…….ini yang ketjeeee nih.

Bayangin aja, sambil menyantap bakmi yang lezat sambil menghirup asap rokok dari pengunjung lain….rasanya dijamin langsung tidak enak deh.

Bakmi Kuah…..

Setelah menunggu sekitar 7 hingga 8 menit, tersajilah bakmi djowo yang puanas (kelihatan dari kepulan asapnya), istri saya pesan bakmi kuah…sedangkan saya dan anak lanang (cowok) mennyantap bakmi goreng. Rasanyaa…..sedeeeeeup eui…

Bakmi Gorengnya Keburu Saya Makan (Lupa Moto)

Bakmi yang lembut, dipadukan dengan kuah yang kaya akan rempah-rempah. Sangat cocok dikonsumsi daam keadaan panas (jangan panas-panas juga) hehehe….

Karena bawa baby, so….saya kebagian makan duluan sedangkan istri saya jaga si debay. Nah, ketika tiba giliran jaga….si baby saya bawa keliling bagian daam warung. Tiba-tiba, si debay nangis namun tidak dengan suara yang nyaring seperti biasanya. Dan tangisan kali ini menandakan jika dia takut akan sesuatu…..

Topeng yang ditakuti Debay

Waaah…pantas saja, pada bagian dalam terdapat banyak patung serta topeng gitu. Melihat ada bayi nangis….para pelayan yang berbaju tradisional Jogja tersebut mencoba menenangkan. Hehee….tapi tetep saja dia udah keburu takut.

Penampakan Dari Jendela Luar

Meski Penampakan Warungnya Tidak Wah, Tapi Bakminya Sangat Wah….

Mungkin Anda juga menyukai

2
Tinggalkan komentar

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Antonliana Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
liana
Guest

waaaaah! foto bakminya bikin kepengen cobain bakmi djawa mbah gito 🙁
tmpt makannya juga seru ya, kaya ada sensasi yg beda. mesti berkunjung ke sini nih nanti.
makasi sharingnya ya 🙂